Marhaban Ya Ramadhan

MARHABAN YA RAMADHAN

                Saat ini kita memasuki bulan ramadhan 1423 H, bulan yang suci yang didalamnya banyak terdapat limpahan rahmat dari Allah swt.  Bulan dengan  peristiwa  besar yang terjadi dalam sejarah Islam, bulan pertama sekali diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, karena itu disebut juga bulan ramadhan dengan syahrul qur’an.  Bulan Ramadhan juga adalah bulan dimana Allah mengingatkan kita kembali bahwa ada masanya kita harus berhenti sejenak dan merenung dengan kondisi menahan lapar dan dahaga, setelah setahun penuh diliputi dengan pekerjaan dan kesibukan duniawi, untuk mengingat kembali maksud dan tujuan Allah menciptakan kita, yaitu menjadi hambanya bukan sebaliknya kita menjadi Tuhan bagi diri kita sendiri karena senantiasa merasa bisa dan dapat berbuat apa saja sesuai keinginan kita.

Bulan ramadhan juga merupakan momentum yang baik untuk  kita untuk melihat neraca perjalanan keagamaan kita yang telah kita jalani selama setahun lalu, apakah berada neraca yang baik  dan berat sesuai dengan tuntunan agama atau masih berada pada neraca yang ringan atau bahkan pada angka negatif yang kiranya perlu ditingkatkan pada hari-hari berikutnya.  Inilah sebagian manfaat bulan ramadhan, karena memang kita manusia yang secara kodrati sering lupa dan harus selalu diingatkan.   Bulan ramadhan adalah momentum yang tepat untuk menjernihkan kembali ingatan kita itu yang sering dilupakan atau sengaja dilupak

Jika akan datang bulan ramadhan, ada tradisi rasulullah dan sahabat-sahabatnya dalam menyambutnya.  Mereka menyambut dengan rasa suka cita dan berseri-seri, dipersiapkan dirinya dari mulai bulan sya’ban untuk melakukan ibadah-ibadah, baik dengan memperbanyak shalat-shalat sunnah maupun dengan berpuasa sunnah,  yang kesemuanya menunjang persiapannya untuk berada di bulan ramadhan.   Dipersiapkan dirinya pula dengan berkeliling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya.  Mereka ingin memasuki bulan Ramadhan dengan tanpa beban dosa.  Mereka ingin berada dalam suasana Ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.

Pada saat bulan ramadhan tradisi itupun tetap dijalani dengan frekuensi yang lebih intensif lagi, dijalaninya dengan memperbanyak ibadah, baik dengan memantapkan ibadah yang wajib dan memperbanyak ibadah yang sunnah, diintensifkannya tadarrus Al-Qur’an, dan diakhiri dengan I’tikaf pada beberapa hari menjelang berakhirnya bulan ramadhan.   Perbuatan dari sunnah rasulullah dan para sahabatnya itu hendaknya menjadi cambuk bagi kita agar berusaha mengikuti tuntunan yang seperti itu, yaitu ketika akan mendengar ke datangan Ramadhan, pada saat bulan ramadhan, dan pada saat mengakhiri ramadhan.

Ketika kita tidak mampu mengikuti sunnah dan ajaran Rasulullah itu, maka itu memberi arti bahwa kita memahami ramadhan hanyalah sekedar ibadah ritual yang rutin, maka ia akan menjadi rutinitas yang tidak memiliki bobot nilai yang tinggi, dia hanya akan menjadi puasa simbolis, yakni menahan lapar dan dahaga saja.  Dapat saja kita dipandang muslim yang berpuasa itu  sebagai orang yang bersimpati melaksanakan kewajiban agama yang dipeluknya, tetapi sesungguhnya dia miskin dari dampak dan pengaruh yang semestinya lahir setelah dia melaksanakan itu, yaitu menjadi orang yang bertaqwa.  Karena inti dari berpuasa yang berhasil itu peningkatan ketakwaan, yaitu ketika seorang muslim mampu untuk menahan dirinya dari berbuat tidak baik dan curang kepada dirinya dan orang lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s