SEREMONIALISASI KORUPSI

Hari selasa tepatnya tanggal 9 Desember 2008 adalah hari yang spesial sekali di dalam seluruh pemberitaan media massa kita, seluruhnya menyiarkan secara penuh seremonial hari anti korupsi sedua, baik seremonial yang dilaksanakan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono maupun yang dilaksanakan oleh sang pendekar anti korupsi, ketua KPK Antasari Azhar.  Seremonialisasi seperti itu adalah hal yang baik-baik saja, hal itu dimaksudkan untuk menggugah perasaan yang terdalam dari kalangan bangsa Indonesia bahwa korupsi sudah sangat membahayakan dan penyakit yang akut.  Selain itu juga akan menguatkan tekad bersama untuk menaggulangi korupsi secara bersama-sama.

Akan tetapi orang Indonesia tetaplah orang Indonesia yang budaya suka lobi-lobi, ngumpul-ngumpul, salam-salaman, bercerita ngalor-ngidul dari berapa anak, bagaimana keadaan kesehatan, sekolahnya  sampai di mana, karier bagaimana dan lain semacamnya.  Belum lagi yang namanya orang Indonesia kalau mau ada acara seremonial mesti ada persiapan-persiapan, biar ngak malu-malui, jadi yah mesti pakai baju baru supaya kalau ketemu teman lama dikatakan ada perbaikan nasib sedikitlah, kalau yang panitia bagaimana supaya acaranya sukses.  Pejabat yang diundang utamanya bisa puas dan tidak mengecewakan, mereka yang hadir bisa tertib sehingga tidak ada kekacauan selama pidato pejabat yang bersangkutan berlangsung.  Masih banyak sederet kemubaziran dari setiap acara seremonialisasi korupsi ini, dari biaya perjalanan dinas karena ada dipemberitaan 33 Gubernur ikut dalam acaranya seremonal Pak Antasari Azhar bukan seremonial Presiden, hampir tidak ada yang absen.  Kenapa ini, tentu bukan karena KPK  menerapkan sistem absen, bukan karena KPK yang lebih berbahaya dari Presiden , wallahu ‘alam atas niatan itu.

Memang tidak ada penelitian yang jelas, tentang seberapa efektifkah seremonialisasi suatu peristiwa.  Agama saja yang dikenal sebagai nilai dogma yang tertinggi, Islam umpayanya hanya mengenal beberapa seremonial resmi, idul adha dan idul fitri.  Indonesia terlalu banyak seremonial-seremonial seperti ini, sehingga “kerja” seorang pimpinan pemerintahan setiap harinya hanya dari seremonial ke seremonial.

Beralih ke korupsi, stigma bahwa korupsi sudah membudaya dan menjadi budaya bangsa Indonesia harus berani diubah menjadi budaya jujur dan amanah.  Kantin kejujuran yang dicanangkan bagi lembaga-lembaga tertentu adalah wujud nyata pembiasaan kejujuran.  Pembiasaan ini harus berlangsung terus dan ditanamkan kepada setiap anak bangsa ini.  Perubahan lain adalah kemauan untuk meninggalkan korupsi adalah berangkat dari adanya hati yang tulus untuk menolak bukan semata-mata aspek hukum.  Penegakkan hukum memang akan dapat mengakibatkan orang akan jera untuk  melakukan kejahatan, tetapi orang pun akan senantiasa mencari cela untuk menghindar dari hukum yang akan menjerat.  Di sinilah pembiasaan dan bukan seremonial yang penting.

Seremonialisasi dalam hari anti korupsi adalah bukan pembacaan sederetan prestasi daftar berapa pejabat, anggota DPR, atau penguasa lainnya yang ditangkap.  Selain hukuman nyata, berupa tembak langsung orang yang terbukti korupsi adalah hal efektif untuk menjerakan mereka.  Bukan hanya sibuk dengan aksesoris baju koruptor, model penjara koruptor, dan lain sebagainya.

Tetapi akhirnya, KPK pun tentu bukan malaikat, mereka juga manusia biasa. Tetapi nampaknya dia akan menjadi “malaikat” yang ditakuti sampai ada yang “menembak”-nya untuk membubarkan lembaga ini.  Konsisten, Komitmen dan tetap pada kepentingan bangsa bukan diri sendiri harus di kedepankan.  Selamat hari anti korupsi se dunia.

Nasruddin Yusuf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s