Khutbah Idul Adha 1429 H/2008 M

Perayaan Idul Adha adalah perayaan hari besar Islam yang banyak disebutkan di dalamnya Nama Nabi Ibrahim.  Dia adalah seorang Nabi yang banyak sekali menurunkan nabi-nabi setelahnya, karena itu disebut dengan Bapaknya para Nabi.  Kisah nabi Ibrahim as dan tindakannya banyak dikutip sebagai bahan rujukan keagamaan oleh ahli-ahli pendidikan Islam, ahli hukum Islam, ahli etika Islam dan lain sebagainya.  Ini bersesu Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah beliau, untuk kemudian kita jadikan bekal di dalam mengarungi kehidupan ini. Sungguh sangat benar apa yang difirmankan Allah swt :

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan-nya” ( QS. Al Mumtahanah : 4 ).

Inti dari pelajaran yang dapat kita ambil dari teladan beliau adalah pada puncak pembuktian adanya iman, yaitu bila sudah tidak ada perintah yang dianggap berat, tidak ada tugas yang sulit. Apapun dan bagaimanapun kalau yang namanya tugas, kalau namanya garis hukum dan ketentuan Allah SWT, sudah tidak dicari lagi alasannya untuk mengelak atau menghindar.

Itulah yang telah dibuktikan oleh Nabiullah Ibrahim as bersama keluarganya yang pada pagi hari ini kisah dan riwayat beliau disampaikan oleh para pengkhutbah dan didengarkan oleh para pendengarnya di seantero dunia ini. Beliau telah memberi contoh dan suri tauladan sebuah iman yang sudah berbicara. Iman yang sudah berfungsi dan hidup. Sampai pada perintah menyembelih anak sendiri, Ismail as anak yang selama ini dirindukan kehadirannya sebagai penerus missi dakwahnya, itupun dijalankannya.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” ( QS. As-Shofat : 102 ).

Qurban yang merupakan pengabdian, sebagai wujud ketaatan kepada yang zat yang memiliki segala sesuatunya disambut dengan hati tulus tanpa penawaran. Masing-masing kita bisa menginstrospeksi diri sendiri seberapa jauh jarak perbedaan kesediaan kita ber-qurban dengan tegaknya ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT, dengan yang telah diperlihatkan oleh Nabiyullah Ibrahim as. Ketaatan Ibrahim hendaknya kita jadikan sebagai barometer dalam menilik posisi iman. Sejauh mana sebenarnya keimanan yang telah kita miliki, supaya kita jangan tertipu oleh iman yang dalam bayangan saja. Iman yang hanya berdasarkan pemikiran subjektif manusia, iman yang berdasarkan perkiraan saja atau iman yang berdasarkan reka-reka akal semata.

Iman kepada Allah dengan mengambil i’tibar dari Nabiyullah Ibrahim memang menuntut harga sejauh itu, yaitu  sanggup meninggalkan apa saja yang disenangi dan dicintai ketika perintah telah datang dari Allah.  Dan pengorbanan iman yang seperti itu seimbang dengan jaminan yang disediakan berupa syurga yang menjadi idaman. Karena itu sangatlah wajar kalau iman sangatlah perlu dibuktikan dengan pengorbanan. Tidaklah seseorang akan dikatakan baik imannya kalau dia sendiri tidak pandai berkorban.

Marilah sekarang kita merenung dan bertanya-tanya di tengah panasnya terik matahari ini dan di bawah hamparan langit di saksikan oleh sang Pencipta kita saat ini.  Adakah kita sekarang ini telah beriman, atau masihkan kita beriman dan adakah sebenarnya iman itu didalam dada? Kalaupun masih ada sedikit iman di dada ini, Apa yang telah kita korbankan untuk iman yang sedikit ini, dan apa atau berapa lagi yang akan kita bisa korbankan? Perlu jawaban yang penuh kejujuran oleh diri sendiri. Dari jawaban itulah kita nanti akan mengetahui posisi iman kita yang sebenarnya. Sebab iman yang hakiki itu bukan saja pengakuan tapi juga pembuktian. Iman bukan sekedar pernyataan tapi menuntut kenyaataan. Imam bukan sekedar menuntut seminar-seminar, lokakarya-lokakarya, pengajian-pengajian, ceramah-ceramah, tapi iman menuntut perbuatan dan wujud karya.

Iman adalah kekuatan, potensi dan modal perjuangan dalam diri seorang muslim dalam upaya menegakkan kebenaran, menghilangkan kemaksiatan dan kemungkaran. Dan ini memastikan iman akan berbenturan dengan berbagai kepahitan dan ketidanyamanan yang melahirkan riak dan gelombang. Bahkan kekuatan iman bisa mengantarkan seseorang ke jeruji penjara dan kematian.  Iman adalah aksi dan bukti yang menyatakan keberadaannya secara pasti, yang dapat turut dirasakan juga oleh orang lain. Iman indah dalam realita, bukan dalam berita, indah pada fakta bukan sekedar cerita.

Iman yang hakiki adalah semangat yang utuh untuk mencintai Allah dan keberanian seorang hamba untuk lari dari berbagai macam kesenangan dunia.Dengan kata lain, kesenangan dunia yang diberikan Allah kepada kita, jangan sampai melalaikan kita dari beribadat kepada-Nya. Dalam rangka itulah, Allah swt setelah memberikan karunia anak yang sholeh kepada nabi Ibrahim as, dan pada saat anak tersebut beranjak menjadi dewasa, Allah swt hendak menguji nabi Ibrahim as, apakah anak yang telah lama dinanti-nantikan tersebut, yang telah lama dirawat dan didiknya sehingga menjadi dewasa dan sangat menyejukkan hati orang tuanya itu.. apakah akan melalaikannya dari ibadat dan taat kepada Allah swt?, disinilah nabi Ibrahim as diuji. Apakah dia lebih mencintai anak atau mencintai Allah swt?. Ternyata nabi Ibrahim as, secara baik telah mampu melewati ujian tersebut. Ia telah menempatkan kecintaannya kepada Allah di atas segala-galanya. Dia segera melaksanakan perintah Allah swt untuk menyembelih anaknya, dia sangat menyakini bahwa setiap yang diperintahkan Allah akan selalu berakibat baik. Sebaliknya, kalau dia tetap lebih mencintai anaknya dan melalaikan perintah Allah swt, niscaya dia termasuk orang-orang yang merugi. Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun : 9).

Kemauan untuk meninggalkan berbagai macam kesenangan dunia telah  dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang mempunyai kemampuan untuk menyembelih hewan qurban.  Ini pertanda bahwa sifat kebinatangan yang lebih mencintai dunia haruslah disembelih, dimatikan dan diganti dengan sifat keilahian yang berorientasi pada akhirat dan kemanusiaan.   Termasuk juga kemauan untuk meninggalkan berbagai macam kesenangan dunia telah dilakukan oleh jutaan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia pada saat ini.  Mereka bersusah payah berdesak-desakan diantara apitan berjuta manusia, merasakan terik dan panasnya matahari, mengeluarkan jutaan rupiah atau menjual harta yang paling berharga hanya  untuk menunaikan kewajiban asasinya kepada Allah SWT walaupun setelah sampai di sana merekapun akan berhadapan dengan resiko terberat berupa kematian dan kehilangan nyawa.  Tetapi panggilan Allah begitu indah terdengar dan merdu dirasa daripada panggilan-panggilan lainnya yang diabaikan bagaikan angin yang bertiup melewati telinga.

لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك

Semangat berkorban dari jutaan jamaah haji ini dengan langkah pasti meninggalkan seluruh kesenangan inderawi tadi mudah-mudahan tertular kepada kita semua saat ini.  Terlebih jika diantara kita saat ini ada yang telah memiliki kemampuan finasial dan memiliki kekuatatan fisik untuk memenuhi panggilan tadi, maka janganlah ditunda-tunda lagi.  Karena penundaan itu dengan alasan belum pantas, belum mendapat panggilan, belum waktunya adalah alasan-alasan yang senantiasa yang dibuat-buat tanpa dasar yang jelas.  Inilah tanda yang jelas bahwa kecintaannya kepada benda dan kesenagan dunia telah mengalahkan dia dari mencintai Allah melebihi cintanya kepada sesuatu apapun. Hendaknya peristiwa yang dialami Nabiyullah Ibrahim as sekeluarga menyentakkan kita untuk memulai dari sekarang. Kita melihat dan minilai iman dan cinta kepada Allah adalah sebagai sesuatu yang mutlak mendapat perhatian yang wajar. Tempatkanlah iman dan kecintaan kepada Allah diatas semua prioritas. Allah swt dengan jelas dan tegas menyatakan hal itu,

رأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين

Kalianlah yang berada pada peringkat atas jika kalian beriman.” (Q.S. Ali ‘Imran: 139)

Sudah waktunya memberi harga pada diri kita dengan menempatkan iman lebih penting dari harta, ilmu, dan jabatan. Sekarang juga, bukan besok, bukan pula lusa. Program pengadaan dan peningkatan iman inilah program yang sangat mendesak. Sejarah sudah cukup menjadi saksi, kalau segalanya sudah pernah kita miliki, tetapi ternyata belum dapat menghidangkan Islam hingga memberi warna dalam kehidupan sehari-hari. Itu disebabkan karena sektor iman yang belum mendapat porsi yang memadai. Iman masih dianggap masalah kecil dari segala yang berbau bendawi.

Termasuk dalam kecintaan kita kepada Allah adalah semangat berkorban untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup yang berada disekitar kita.  Sebagaimana yang didoakan dan dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim dan keturunnnya yang merubah kota Makkah yang semula tandus dan tak berguna menjadi lembah yang indah dan menyejukkan hati yang kemudian menjadi tujuan berjuta manusia datang ke tempat itu.   Kisah ini bermula ketika Nabiyullah Ibrahim as diperintahkan meninggalkan anaknya, Ismail yang baru berumur beberapa hari, dan istrinya, Siti Hajar, di sebuah lembah (Lembah Baqa) yang sangat gersang yang letaknya sekarang ini di sekitar masjidil Haram Makkah al-Mukarram. Sekilas apa yang dilakukan Ibrahim merupakan tindakan yang zhalim dan penganiayaan terhadap anak istrinya. Tetapi Nabiyullah Ibrahim dengan kekuatan hati yang sangat besar melangkah pasti meninggalkan godaan menuju ketaatannya kepada Allah swt.  Dia menyakini jika yang diperintahkan kepadanya adalah suatu rahasia tersembunyi Tuhan bahwa meskipun tempat tersebut gersang dan tandus jika diolah dan diurus dengan sungguh-sungguh pasti akan diubah-Nya menjadi tempat yang layak berdiam di dalamnya manusia.  Dia menyakini bahwa tidaklah Allah menyuruh dan menciptakan sesuatu tanpa maksud dan tujuan tertentu, inilah yang digambarkan di dalam do’a Nabiyullah Ibrahim as

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu yang dihormati. Ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka menegakkan shalat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka, berilah mereka rezeki dan buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Buah dari kepatuhan seorang ayah Ibrahim dan organisasi yang baik dari anak keturunannya dalam mengelola lingkungan merubah secara drastis negeri yang tandus menghasilkan negeri yang makmur dan bergelimangan kesenangan, Makkah al-Mukarramah. Makkah bukan saja dikenal di jazirah Arab, tapi menjadi rujukan berjuta anggota masyarakat dunia. Kecenderungan hati manusia seperti yang diungkapkan Ibrahim dalam doanya tersebut telah menjadi sumber inspirasi semiliar manusia untuk berkunjung ke sana.

Tunduk dan taat serta patuh apa yang menjadi perintah Allah harus senantiasa ada di dalam diri kita, sebab tanpa kepatuhan dan ketaatan serta tertalu banyak bertanya dan kekhawatiran hanya akan menghambat banyak kemajuan.  Kepatuhan dan ketaatan juga harus kita wujudkan pada pemerintahan yang senatiasa berjalan dan selaras dengan ayat-ayat Al-Qur’an di dalam usaha melestarikan lingkungan, yaitu merubah suatu alam yang rusak dan porak poranda menjadi indah dan tertata.  Sebagaimana difirmankan Allah :

“Hai orang-orang yang beriman taati lah Allah, dan taati Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu” (QS. al-Nisa: 59).

Pemerintahan di bawah kepemimpinan gubernur kita saat ini Bapak Harry Sarundajang telah berusaha mencoba merealisasikan substansi nilai-nilai Al-Qur’an secara sungguh-sungguh yaitu dengan menggagas berlangsungnya even internasional woc pada tanggal 11-15 Mei 2009 yang akan datang di bumi nyiur melambai ini.  Even ini adalah realisasi makna ayat-ayat al-Qur’an,  yaitu merealisasikan usaha menjaga kelestarian lingkungan sebagai ciptaan Allah dan menghindari kerusakan akibat-akibat ulah tangan-tangan nakal manusia yang cenderung bersikap destruktif dan merusak :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar”

Kerusakan dan kehancuran alam telah menggugah kita semua tanpa mengenal batas suku, agama, dan bangsa bahwa ini haruslah ditanggulangi secara bersama dengan upaya sungguh-sungguh, terencana dan terukur.  Terlebih kita umat Islam yang memang harus berada digarda depan dalam usaha memerangi kerusakan lingkungan ini. Disinilah makna sesungguhnya dari iman yang utuh yaitu kemampuan kita berkorban untuk kepentingan umat manusia di atas kepentingan diri kita sendiri.  Kerusakan dan kehancuran alam tidaklah akan pernah terjadi dengan sendirinya, ia terjadi akibat dari perubahan-perubahan struktur yang sengaja dibuat oleh manusia.   Karena itu even WOC disamping merupakan ajang promosi bagi provinsi kita, juga merupakan kesempatan yang baik pula untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita semua adalah orang-orang modern yang taat kepada perintah Allah karena mampu menjaga keindahan alam dan habitat hewani dunia yang telah diciptakan Allah untuk kesejahteraan kita semua.  Bukankan Allah dan ciptaannya itu indah dan Allah pun hanya suka kepada yang indah dan yang cantik saja.  Keburukan, ketidakteraturan, kesemrawutan bukanlah bagian dari Allah itu sendiri :

إن الله جميل يحب الجمال

“Allah itu Indah dan suka pada hal-hal yang indah”

Dan akhirnya buah  even ini akan memberikan banyak  yang berbeda menjadi satu, menjadi saling menyayangi karena terikat pada satu janji,  yaitu keinginan untuk melestarikan lingkungan dan menjaganya karena memang kita atau anak-anak kita akan tinggal lebih lama di sini.

Namun selanjutnya setelah kita mampu berkorban untuk mewujudkan kepatuhan kita pada pemerintah sebagai wakil Tuhan di muka bumi, pada tempatnya pula kita bermohon kepada pemerintahan daerah kita di sini agar dapat berkorban untuk dapat memperhatikan dan memberdayakan lembaga-lembaga keagamaan Islam, organisasi-organisasi Islam, lembaga-lembaga pendidikan Islam selaku garda depan dalam mengawal dan mensosialisasikan program-program pembangunan dan keamanan pemerintah Sulawesi Utara, khususnya lembaga pendidikan Islam STAIN Manado, sebagai tempat bersemayamnya intelektual-intelektual Islam Sulawesi Utara.  Jika ini terwujud harmonisasi dan saling mencintai yang tulus akan senantiasa terwujud antara masyarakat dan pemerintahnya.  Inilah yang disebut di dalam bahasa Al-Qur’an terciptanya negeri yang makmur yang berlimpah di dalamnya berkah dan keampunan dari Allah SWT, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur

Sebelum mengakhiri khutbah ini ada yang perlu kita cermati dalam rangka memasuki tahun 2009 dengan terjadinya perhelatan besar yaitu pesta demokrasi dalam rangka pemilihan wakil-wakil rakyat kita yang akan dduduk dikursi legislatif dewan perwakilan rakyat.  Dalam momentum pesta demokrasi tersebut, marilah kita kedepankan persatuan dan kerukunan baik di antara para calon legislatif itu sendiri maupun para pendukung mereka dengan senantiasa berkampanye yang santun dan berwibawa, senantiasa bertanggung jawab akan keamanan dan kenyamanan serta menghindarkan diri dari terjadinya benturan dan friksi-friksi.  Selain itu para calon dan konstituennya pun harus senantiasa memiliki semangat untuk berkorban, sesuai dengan pengorbanan Nabi Ibrahim as, yaitu bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan kalah ataupun menang, Jadi ataupun tidak jadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s