Renungan Idul Fitri 1429 H

Idul Fitri adalah simbolisasi dari hari besar Islam.  Hari yang banyak ditunggu kehadirannya oleh banyak orang.  Berbagai kegiatan, baik yang sifatnya ritual religius maupun ritual sosial senantiasa mewarnai hari besar ini, baik menjelang kehadirannya maupun setelah kehadirannya.  Momen ini sungguh menyibukkan.  Sebelum hari raya, orang Indonesia sering menyebutnya lebaran, ritual puasa dengan berbagai kegiatan ibadah tampak mewarnai pada bulan ini.  Orang yang tak biasanya terlihat muncul di tengah-tengah rumah ibadah pada bulan ini tiba-tiba terlihat, dan baru ditahu kalau dia saudara atau tetangga kita.  Begitu juga saudara-saudara dari berbagai penjuru yang dulunya tidak terlihat dan tidak pernah dikenal tiba-tiba terlihat pada rutinitas ini, sungguh mengharukan dengan memperkenalkan dirinya sebagai saudara dengan mengurut silsilah keluarga.

Kegiatan berinfak, shadaqah, dan zakat juga marak di bulan ini menjelang lebaran, manusia terlihat sangat sosial tanpa memperhitungkan untuk siapa dan berapa yang dia beri dengan senang hati ataupun keterpaksaan mengeluarkannya.  Tak kalah pentingnya keinginan untuk menyantuni orang lain yang masih dalam lingkungannya juga turut mewarnai dengan menebar uang dan parsel di bulan ini.  Hampir semua komunikasi menjadi lancar pada bulan-bulan menjelang lebaran, yang kaya berkomunikasi aktif dengan yang miskin, yang muda tidak segan berbicara dan mengetuk hati pintu hati yang tua.  Sungguh fantastis keajaiban di bulan ini.

Setelah lebaran pun suasana itu juga masih mirip sebelum ramadhan, kunjung mengunjungi dan bersilaturrahmi setelah bersusah payah mudikadalah acara rutin.  Tidak ada yang merasa berat melakukan itu semua, berjalan seperti air, kata maaf demikian indahnya terucap dari bibir masing-masing orang.  Tangan satu berulur tangan lain menyambut diiringi senyum dan permohonan maaf.  Tidak bisa dibayangkan betapa senangnya hati melihat itu semua.  Suasana surga benar-benar tergambar pada saat itu, di mana tidak tampak adanya kesedihan.

Andai hari itu adalah sepanjang hari dalam setahun.  Tapi tidak akan mungkin.  Setelah ini semua usai masing-masing manusia meletakkan dirinya pada posisinya masing-masing.  Setelah mendarat menginjakkan kakinya di bumi toh pada akhirnya ia juga harus terbang.  Yang miskin akan kembali lagi berkutat dengan kemiskinannya tanpa pernah tahu kemana dia akan meminta, sungguh kontras dengan suasana sebelumnya, ketika meminta orang langsung memberi bahkan tidak meminta pun banyak yang datang memberinya karena tahu dirinya miskin.  Yang kaya akan kembali disibukkan dengan kebiasaan “mengumpulkan” tanpa pernah merasa tahu bahwa ada orang lain yang menanti belas kasihan, sungguh kontras dengan suasana sebelaumnya, di mana ia berkeringat sendiri mencari orang-orang yang dianggapnya layak menerima bantuan dari tangannya.  Begitu juga kata maaf dan senyum telah berganti dengan gerutan kesedihan ataupun kemarahan, sunggguh kontras dengan bulan puasa dan lebaran dimana kata maaf begitu lancar terucap dan senyum dibibir yang tidak putus-putusnya.

Begitulah manusia terlalu cepat lupa, lupa bahwa ada saudaranya yang membutuhkannya, ada keluarga yang menanti kedatangannya, ada teman yang menanti kata maafnya, dan lupa bahwa hidup hanya sementara.  Lupa bahwa bulan lalu telah belajar banyak untuk banyak kebaikan.  Mudah-mudahan kita tidak masuk dalam golongan manusia yang sering lupa, bahkan pikun, atau gila yang menafikan adanya hal-hal lain  yang menjadi bagian dari kehidupan kita.  Mohon Maaf Lahir dan batin kepada Allahlah kita menyerahkan segala urusan.  Abu Safwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s