Tragedi zakat Pasuruan

Keinginan baik haruslah dilakukan secara baik pula.  Tragedi Pasuruan tanggal 15 September 2008 yang telah menewaskan 21orang dan beberapa orang yang masih dirawat secara intensif telah membenarkan pernyataan itu. Pertanyaannya apakah keseluruhan kesalahan bisa secara spontan kita limpahkan kepada niat baik sang muzakki, keluarga Haji Syaichon.  Banyak yang berpikiran seperti itu, jika menggunakan pendekatan mikro, namun kejadian seperti itu haruslah dilihat juga secara makro, karena kejadian seperti itu bukanlah yang pertama.  Tragedi seperti ini telah ada dan merupakan fenomena yang berulang sepanjang tahun khususnya pada setiap hari-hari besar keagamaan, pembagian Bantuan langsung Tunai (BLT),  pasar murah, dan pembagian sembako oleh organisasi-organisasi sosial dan politik.

Kemiskinan memang menjadi biang dari itu semua, tentunya jika tidak ada kemiskinan maka tidak mungkin akan ada orang yang akan antre merelakan dirinya memar, berdarah, apalagi mati hanya untuk mendapatkan sekantong bahan pokok atau uang tunai yang tidak lebih dari seratusan ribu rupiah.  Kemiskinan telah menyebabkan orang tidak menghargai lagi arti hidup, bagi mereka hidup saja sudah berat karena tidak tahu apakah besok masih bisa hidup jika tidak mendapatkan bekal bahan pokok untuk dimakan keluarga besok hari.  Kemiskinan juga telah membuat mereka beringas dan nekat, tidak perlu melihat lagi orang atau keselamatan orang lain karena dirinya juga belum tentu selamat untuk hidup.  Karena itu beruntunglah kita yang diberikan sedikit harta oleh Allah yang bisa menyimpan untuk menggantung hidup kita selama seminggu, sebulan, setahun untuk kehidupan kita.  Bahkan ada yang telah menyimpan persiapan hidup itu sampai anak-anak dan cucu-cucunya.  Dan kita juga harus bersyukur kepada orang-orang miskin itu yang tidak pernah berkumpul dan berserikat untuk mengambil harta yang kita simpan tadi dengan paksa, padahal mereka bisa saja mengorbankan diri dan hidup mereka dengan kemiskinannya untuk bertindak nekat memaksa kita menyerahkan harta kita sehingga kita bisa setara dengan mereka.  Toh hidup juga tidak memiliki arti bagi mereka.

Kita senantiasa menganggap harta yang kita miliki adalah usaha dan kerja keras kita sendiri tanpa bantuan orang lain dan jasa orang lain.  Padahal keterikatan kita sebagaimana dengan orang miskin sangatlah erat.  Pemberian kita kepada orang miskin senantiasa kita anggap sebagai belas kasihan semata, tanpa pernah memandang adalah upaya kita “menyogok” orang miskin untuk tidak berbuat anarki kepada kita.  Biasa kita menyebutnya uang preman, uang keamanan dan lain sebagainya.  Dalam kontek belas kasihan, memang Allah menyebukannya  di dalam al-Qur’an dengan menyebutkan pemberian itu dari kelas atas al-aghniya (orang kaya) kepada al-fuqara (orang miskin).  Namun memahaminya jangan sampai terjebak pada hal itu saja, kita harus memahami dengan mafhum lain, yaitu keinginan kita untuk menjaga kestabilan sosial yang merupakan tanggung jawab orang kaya, orang miskin tidak perlu stabilitas dan kenyamanan, karena setiap harinya hidup mereka tidak stabil dan tidak nyaman.  Allah menyuruh kita memberikan harta kepada mereka yang miskin sebagaimana yang dituturkan oleh Nabi adalah agar orang miskin tidak menjadi orang kafir (kada al-faqr an yakuna kufran).  Kafir di situ jangan senantiasa dengan kafir bathiny atau keyakinan, tetapi dapat juga diartikan dengan kafir fi’liy atau tindakan yaitu dengan berbuat anarki.

Secara teologis  kewajiban kita mengeluarakan sebagian harta kepada faqir miskin bukan hanya upaya pendekatan vertikal saja, tetapi juga upaya pendekatan horizontal.  Pendekatan horizontal juga harus ditata sedemikian rupa, sehingga tidak ada menciptakan kelas baru dalam pengelolaan keseluruhan harta sosial.  Boleh jadi, dalam peristiwa tragedi Pasuruan terjadi karena ketidak percayaan muzakki kepada lembaga-lembaga zakat yang ada baik yang dibentuk oleh pemerintah maupun oleh swasta.  Lembaga-lembaga itu memang  harus bertindak maksimal yaitu hanya sebagai penyalur bukan muzaki.  Muzakki yang memiliki harta memiliki kekuasaan penuh untuk menzakatkannya.

Di dalam ketentuan ayat zakat posisi penyalur dalam hal ini ‘amil adalah berada posisi yang sama dengan fakir miskin.  Tidak berada pada setingkat di atas fakir miskin.  Kenyataannya masih ada ‘amil yang bertindak selaku muzakki dan menyalurkan harta muzakki kepada siapa saja yang dia inginkan serta untuk peruntukkan yang ia tentukan sendiri.  Di sinilah letak dari kekurang percayaan muzakki kepada ‘amil sehingga ia perlu mendistribusikan zakatnya sendiri untuk lebih menentramkan hatinya.  Apalagi melihat prilaku ‘amil yang hidup melebihi batas dari ketentuan hak yang harus diterima dari harta zakat atau sedekah yang memang telah ditentukan.  Untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat perlu diadakan perubahan paradigma dari masing-masing ‘amil zakat mengenai eksistensinya sehinga akan menimbulkan kepercayaan yang utuh dari masyarakat dan yang pasti tidak akan terulang tragedi zakat pasuruan dengan tragedi-tragedi lainnya.  Abu Ais.

Satu pemikiran pada “Tragedi zakat Pasuruan

  1. Saya sangat setuju dgn pemikirannya, namun tidak cukup hanya dengan mengadakan perubahan paradigma dari sang amil saja tapi sang muzakki pun demikian, karena tidak sedikit di luar sana Badan Amil yg telah terbentuk dan telah dikelola dengan management yang bagus dan produktif. Faktor niat dalam masalah ini juga harus betul-betul diluruskan kembali (amil dan muzakkinya). Trims. Sukses Selalu. (Abu Afiah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s