jump to navigation

Paham Islam Tentang Kebebasan Beragama dan Perlindungannya September 18, 2008

Posted by abusafwa in Artikel, Opini.
trackback

By: Nasruddin Yusuf

A. Toleransi  arah bagi kebebasan beragama
Secara geografis Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang dalam perkiraan jumlah pulaunya terbentang dengan 13.000 lebih pulau.  Dan kini penduduknya telah lebi199,7 juta jiwa.  Penduduk yang besar itupun kemudian terdiri lagi dari beragam suku bangsa yang menurut perkiraan keseluruhan suku yang ada di Indonesia berjumlah sekitar 370 suku bangsa dengan lebih dari 67 bahasa daerah.  Sejumlah etnis seperti Melayu, Cina, Arab, dan Negrito berkumpul dalam pagar kesatuan Politik Republik Indonesia.

Selain dari beragamnya dari segi etnisitas, dari segi agama pun Indonesia juga mengandung keanekaragamaan agama yang masih lestari, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha, dan Hindu.  Jenis kepercayaan yang lain seperti Kong Hu Cu, Kejawen, dan Kepercayaan masyarakat-masyarakat terasing seperti Badui, Tengger, Samin, Dayak dan sejumlah suku di Papua.

Keragamaan yang banyak itu, di satu sisi merupakan kekayaan dari khazanah Indonesia yang beragam.  Karena demikian akan memberikan warna tersendiri bagi bangsa yang memiliki multi etnis yang akan menarik bagi bangsa-bangsa lain.  Menggunakan dan kemudian mampu menggelola potensi keragamaan secara positif tentu akan membuat keunikan tersendiri bagi bangsa ini.  Keunikan itu akan merupakan pelajaran yang baik (The good lesson) bagi bangsa lain untuk mencontoh model dari pengelolaan kemajemukan yang ada.  Namun kemajemukan di sisi lain, ketika bangsa ini lalai atau tidak  mampu mengelolanya secara baik, maka itu semua hanya akan menjadi tendensi negatif yang akan berujung pada kekeran dan supremasi suatu golongan akan golongan lain yang kemudian menisbikan dan menafikan adanya demokrasi dan kesetaraan dalam suatu bangsa.
Salah satu potensi negatif yang dapat menimbulkan kerawanan konflik adalah adanya keragaman agama yang ada di Indonesia.  Benar adanya di satu sisi agama mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa menghormati manusia lain sebagai sama-sama makhluk Tuhan, dengan kata lain agama mengajarkan moralitas yang tinggi bagi pemeluknya.  Namun di sisi lain ketika di mana pada saat yang sama masing-masing agama mengambil subjektifnya untuk menginterpretasikan kebenaran hanya pada agama yang dianutnya, kemudian senantiasa berusaha menyakinkan pemeluk agama lain untuk kembali keagamaan mereka dan itu  kesemuanya itu dilakukan dengan mengatasnamakan agama.  Dalam pandangan teologis masing-masing agama, suatu perjuangan kepada  masyarakat agama lain untuk kembali kepada agama yang dianut adalah suatu perjuangan yang paling utama.

Jika agama sebagaimana yang disebutkan diatas dibangun dengan tingkat heteroginitas yang tinggi akan mengakibatkan agama dipakai sebagai upaya penciptaan konflik oleh sebagian orang, maka dalam sisi baliknya agama juga dapat didudukkan sebagai suatu warna warni yang mempunyai khazanah yang indah.

Untuk menciptakan hal itu, maka upaya yang paling fundamental adalah menumbuhkan sikap toleransi di antara umat beragama.  Toleransi itu harus dibangun atas dasar saling mempercayai bukan atas dasar curiga.  Selain itu, toleransi itu adalah dengan mengakui eksistensi pemeluk agama lain, bukan dibangun atas hegemoni mayoritas atas minoritas.  Setelah terciptanya hal itu, maka pemerintah pun harus turut serta membantu tercipta suasana saling menghargai itu dengan melahirkan peraturan-peraturan yang memiliki keadilan bagi setiap pemeluk agama.

Jika toleransi merupakan upaya sistematis dalam bentuk usaha untuk menghormati orang lain dalam bentuk tindakan dan cara bergaul dengan orang yang memiliki perbedaan pandangan dan tindakan, maka dalam pluralisme adalah paandangan atau ideologi tentang adanya keniscayaan keragaman.  Pluralisme bergerak pada tataran ideologis dan cara pandang, sedangkan toleransi sudah berbentuk tindakan individu untuk menghormati orang lain.

Pluralisme sendiri berasal dari kata plural, yang bermakna banyak, lebih dari satu.  Karena itu kata pluralis masuk juga dalam sebutan jamak.  Pluralisme sebagai sesuatu hal yang mengatakan jamak atau tidak satu, seperti dapat dikatakan pluralisme kebudayaan yang bermakna sebagai kebudayaan yang berbeda-beda di suatu masyarakat.   Begitu dengan halnya dengan pluralisme agama yang bermakna agama yang berbeda-beda.

Dalam konteks banyaknya agama yang berbeda, memahami pluralisme tidak dapat dipahami bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang majemuk, beraneka ragam, terdiri dari suku dan agama.  Pluralisme juga tidak dapat dibawa untuk menghilangkan fanatisme (to keep fanaticism at bay).  Pluralisme harus diartikan sebagai pertalalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bonds of civility).  Bahkan pluralisme adalah juga suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia, antara lain melalui mekanisme pengawasan dan pengimbangan yang dihasilkannya.

Oleh karena itu dalam konteks Indonesia kadangkala kebijaksanaan pemerintah terasa masih dianggap kurang adil dan tidak mencerminkan upaya pengakuan pluralisme, oleh segolongan minoritas umat, khususnya yang menyangkut Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1969 yang nyata-nyata bertentangan dengan UUD 1945, khususnya Alinea I dan pasal 29, yaitu tentang hak asasi manusia huntuk beribadah bagi umat yang minoritas, dan akan menumbuhkan fanatisme sempit di kalanganumat lainnya, sehingga kalangan minoritas umat, surat keputusan bersama itu secepatnya dihapus atau batal dengan sendirinya.

Sesungguhnya pemerintah tidak boleh terlalu banyak ikut campur dalam masalah internal ibadah agama masyarakat.  Ada dua alasan yang biasa dikemukakan, pertama, Negara tidak boleh memaksa dan tidak akan memaksakn suatu agama untuk dipeluk oleh warganegaranya.  Negara harus senantiasa menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing.  Kedua, Negara harus senantiasa memberikan bimbingan kepada warganegaranya adar setiap umat beraga hendaknya rendah hati dan mendorong sesama umat menacapai taraf hidup yang makin tinggi, baik secara lahir maupun batin, bukan hanya yang makin tinggi baik secara lahir maupun batin, bukan hanya terhadap mereka yang menganut iman yang sama, melainkan juga terhadap sesama manusia, yang diyakini diciptakan Tuhan sebagai makhluk-Nya yang paling sempurna.

Untuk menghilangkan konflik dan merekatkan persatuan dalam suatu paham pluralisme harus dipahami adanya tiga sikap yang selalu ada dalam teologi suatu agama.  Hal itu untuk mendapatkan suatu paham teologis yang pluralis.  Pertama, sikap eksklusif,   yaitu suatu pandangan bahwa agamanya adalah merupakan agama yang hanya membawa penganutnya kepada suatu keselamatan.  Kedua, sikap inklusif,  yaitu pandangan bahwa agama lainnya yang tidak sama dengan agama yang dianutnya adalah merupakan agama yang bersumber dari agamanya.  Dan ketiga paralalisme,  yaitu suatu pandangan bahwa agama lain yang berbeda dengan agama yang dianutnya memiliki jalan-jalan keselamatan masing-masing.   Dalam konteks tiga ideologi yang ada dalam suatu paham masyarakat pengikut agama senantiasa mengkristal pada tiga kelompok tersebut.  Dalam kaitan keagamaan, maka paham pluralisme adalah memiliki kemiripan dengan paham yang dipegang oleh mereka yang memiliki kecenderungan paham paralelisme.

Di dalam agama Kristen dan Katolik, sebagaiman tulisan Presmanto HAE, toleransi kehidupan intern dan antar umat sesungguhnya telah tercermin dalam panggilan gereja.  Yang oleh gereja sendiri diberi batas.  Khususnya bila gereja memihak salah satu golongan.  Gereja sering terlalu puas diri dengan karya-karya sosialnya, yang bahkan dilakukan tanpa mengikutsertakan golongan lain.  Gereja memang dipanggil, tetapi tidak atau belum senantiasa diintegrasikan dengan kenyataan konkret.

Dalam rangka pendidikan dan pembudayaan kehidupan umat beragama dan membangun toleransi, menurut tokoh agama Kristen dan Katolik, ada lima pokok mendasar dari panggilannya.  Pertama, fungsi agama, apapun agamanya adalah menuntut atau membimbing manusia dalam merealisasikan keterciptaannya dalam usaha manusia untuk hidup sesuai kodratnya.

Kedua, ia merupakan sarana bagi manusia agar dapat melakukan dialog cinta kasih dengan lebih mudah, lebih sempurna, memberikan kemudahn bagi manusia untuk membuat hidupnya berarti, bukan saja dengan ptunjuk-petunjuknya, melainkan juga dengan kekuatan ilahi, sebutlah rahmat-Nya yang ada dalam agama itu.

Ketiga, bilamana manusia menyeleweng, agama akan mengingatkannya”awas kamu berdosa”, “tindakanmu salah”, “kamu mesti minta ampun dan bertobat”.  Keempat, orang yang hidup tampa ikatan dengan satu agama, bias terjadi bahwa lama kelamaan ia akan kehilangan komunikasi dengan Tuhan.  Kelima, mengkomunikasikan jalan keselamatandan hidup yang kekal.

Dengan demikian, panggilan gerja di tengah masyarakat yang menganut bermacam-macam agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, khususnya yang menyangkut kerukunan antar umat beragama masih dirasakan agak dipaksakan dari atas, kurang berlangsung secara spontan dari bawah.  Hendaknya masalah ini bkan sekedar semboyan saja atau basa-basil dan sopan santun saja, melainkan kita bna dalam usah berkukuh kesatuan dan persatuan bangsa.

Menurut tokoh agama hindu dan Budha, dalam rangka membina umat beragama ada tiga prinsip yang mendasar.  Pertama, masalah karma (kamma) seseorang baik buruknya akan ditentukan dari perbuatannya yang dilahirkan dalam bentuk reingkarnasi yang diturunkan.  Kedua, melepaskan diri dari kemelekatan dunia berupa loba, dosa, dan moha (kebodohan).  Ketiga jangan berbuat jahat, tambahkan kebajikan, sucikan hati dan pikiran untuk menuju nirwana. Dalam kehidupan masyarakat Hindu dan Budha, senantiasa menghargai keseimbangan antara yang lahir dan batin untuk hidup sesuai dengan kodrat-Nya.

Sedangkan di dalam Islam dalam rangka membina toleransi dalam kehidupan umat beragama ada tiga agenda besar yang memerlukan perhatian.  Pertama, meningkatkan pemahaman keagamaan umat bahwa misi agama adalah rahmatan lil alamin (membawa rahmat bagi semesta) harus dijabarkan secara luas.  Jika ini diabaikan, tidak mustahil fanatisme religius yang sesungguhnya bernilai positif untuk membangkitkan semangat jihad berubah menjdi fundamentalisme radikal yang justru merusak sendi-sendi toleransi kehidupan beragama.  Kedua, m,emperbaiki suasana kehidupan masyarakat kea rah yang lebih adil, beradab, dan demokratis.  Selama ini kasus-kasus konflik agama hamper tidak pernah diselesaikan secara transparan melalui dialog, tetapi diselesaikan melalui kompromi tertup pemerintah dan tokoh-tokoh yang mengatasnamakan agama.  Ketiga, menghilang pelembagaan agama secara berlebihan yang pada gilirannya melahirkan sikap ekslusif.

B.  Islam dan isu kebebasan beragama
Adalah merupakan fitrah manusia dan masih sampai dengan saat ini bahwa manusia akan tetap selalu berbeda-beda sepanjang masa.  Karena itu tidak mungkin semata-mata membayangkan bahwa umat manusia adalah satu dan sama, dalam segala hal sepanjang masa.  Konsep kesatuan umat manusia adalah suatu hal yang berkenaan dengan kesatuan harkat dan martabat manusia itu sendiri, antara lain, karena menurut asal musasalnya manusia adalah satu, tidak diperkenaankan untuk membedakan satu dari yang lain dalam hal harkat dan martabat.

Perbedaan harkat dan martabat manusia hanya dibedakan berdasarkan pandangan Allah semata.  Sebab manusia berbeda-beda dari satu pribadi ke pribadi lainnya, manusia sebagai makhluk yang sering dilingkungi oleh rasa subjektivitas yang tinggi tidak boleh menilai pribadi lainnya.  Kehinaan dan kemuliaan ukurannya adalah ukuran ketakwaan yang lelah ditetapkan standarnya.  Karena itu, menurut Nurcholis Madjid, sesama manusia terhadap manusia lainnya, pandangan manusia yang benar ialah bahwa pribadi adalah sama dalam harkat dan martabat dengan imbangannya  kesamaan hak dan kewajiban asasi.

Pada hakekatnya di dalam konsep Islam, manusia itu dipandang dalam satu kesatuan, karena semuanya merupakan hasil dari ciptaan Allah.  Karena itu manusia yang satu dengan manusia yang lainnya adalah satu penciptaan.  Allah berfirman :

ياأيها الناس اتقوا ربكم الذى خلقكم  من نفس واحدة
“Wahai manusia bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam)“. QS. Al-Nisa: 1.
Selain ayat di atas Allah juga menyebutkan di dalam ayat lainnya :

ولو شاء الله لجعلكم أمة واحدة ولكن ليبلوكم فى ما اتكم غاستيقوا الغيرات إلى الله مرجعكم جميعا فينبئكم بما كنتم فيه تختلفون

“Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak mengujimu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lomblah berbuat kebajikan.  Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu diperselisihkan” QS. Al-Maidah (5): 48

Ketika mengomentari ayat di atas, makna kebebasan memilih pada QS. Al-Maidah: 108, dimaksudkan agar manusia berlomba-lomba dalam kewajiban, dan demikian akan terjadi kreativitas.  Karena hanya dengan perbedaan dan perlombaan yang sehat kedua hal iu akan tercapai.   Dengan kata lain, diciptkannya manusia oleh Allah dalam kondisi yang saling berbeda adalah fitrah yang merupakan sunnatullah yang didalamnya memiliki maksud kompetisi dan persaingan yang menjadikan hidup tidak monoton.

Namun oleh sebagian orang banyaknya keragaman di dalam ciptaan Tuhan itu telah mengakibatkan sebagian manusia berkeinginan menarik manusia lainnya ikut dalam warna dan keinginannya.  Dia menganggap orang yang berbeda dengannya adalah manusia yang telah sesat dan harus dikembalikan pada jalan yang serupa dengannya.  Di dalam bidang agama, pemeluk suatu agama senantiasa menganggap orang yang berbeda dengan agama yang dianutnya adalah kesesatan dan harus diperangi.  Mereka mengganggap dirinya yang paling benar sedang orang lain adalah berada di dalam kesalahan.  Hal itu sesuai dengan firman Allah yang menyebutkan bahwa setiap pemeluk agama senantiasa membenarkan dirinya masing-masing :

و قالت اليهود ليست النصري علي الشئ و قالت النضرى  ليست اليهود علي الشئ وهم يتلون الكتاب كذلك قال الذين لا يعلمون مثل قولهم فالله يحكم بينهم يوم القيامة فيما كانوا يختلقون

“Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan” dan orang-orang Nasrani berkata”Orang-orang Yahudi tidak mempunyai satu pegangan”.  Padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab.  Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu, maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih itu” QS. Al-Baqarah (2): 113.

Karena merupakan keniscayaan Allah bahwa umat manusia tidaklah akan seragam dalam segala hal termasuk di dalam konteks keberagamaan, maka adalah kewajiban kita sebagai manusia untuk untuk mengakui adanya perbedaan agama. Dan mereka semua memiliki kebebesan untuk memeluk agama mana yang diyakininya sebagai membawa kebenaran  Justru perbedaan-perbedaan agama itu sendirilah yang harus melahirkan rasa saling menghormati antara satu pemeluk agama dengan pemeluk agama lainnya.  Istilah ini disebutkan dengan istilah toleransi.  Allah sendiri senantiasa menyuruh untuk menghormati penganut agama lain :

الذين أخرجوا من ديارهم بغير حق إلا أن يقولوا ربتا الله ولو لا دفع الله الناس بعضهم ببعض لهدمت صوامع وبيع وصلوات ومسجد يذكر فيها اسم الله كثيرا ولينصرن الله من ينصره إن الله لقوي عزيز

“(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah” seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamya banyak disebut nama Allah.  Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya, Sungguh Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” QS. Al-Hajj (22): 40.

Dalam ayat di atas Allah menyebutkan bahwa sesama manusia harus senantiasa menghormati manusia lainnya dalam keadaan bagaimanapun.  Tidak boleh orang lain dengan kekuasaannya mengusir orang lain dari suatu tempat tanpa adanya suatu alasan yang memadai.  Bahkan sesama manusia harus senatiasa melindungi tempat-tempat ibadah masing-masing agama.

Dalam Islam dogma yang ada senantiasa menyuruh setiap manusia menghormati manusia lain dalam keadaan bagaimanapun.  Dalam keterangan Al-Quran setiap umat Islam meski telah memenangi suatu peperangan, terhadap orang-orang yang kalah itu tetap diperintahkan untuk menghormati mereka.  Hal itu tertanam dalam perintah Allah :

ياأيها الذين لا تحلوا شعائر الله ………ولا آميت البيت الحرام يبتغون فضلا من ربهم ورضوانا

“Wahai orang-orang yang beriman.  Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah,…..(jangan mengangu) orang-orang kafir yang telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku”

Dalam menjelaskan ayat di atas Ibn Katsir menjelaskan bahwa perbedaan agama, di antara manusia tidak seharusnya mengakibatkan peperangan, atau permusuhan di antara mereka.  Karena berlaku adil terhadap semua orang disetiap waktu itu wajib atas seorang muslim sekalipun terhadap orang yang dia benci.

Islam menganjurkan, baik dari segi dogmatis dan praktiknya selalu berpegang pada keniscayaan adanya pluralitas dalam kehidupan agama.  Pluralitas agama dihadapi adalah dengan melestarikan kerukunan dan toleransi.  Dalam prakteknya, itu pernah tercermin dari perbuatan Nabi Muhammad saw dalam menghadapi golongan non-muslim.  Hal ini untuk menunjukkan bahwa Nabi telah meletakkan dasar-dasar toleransi kepada umatnya.  Dan penerapan toleransi itu tetap berlangsung sampai saat ini.

Dalam suatu kisah disebutkan bahwa pada suatu hari beberapa pendeta Kristen dari Najran datang ke Madinah menjumpai Nabi Muhammad saw untuk berdialog dengannya mengenai soal-soal keagamaan.  Nabi pun menyambut mereka, dan selama beberapa hari ketika berada di Madinah mereka menginap di rumah-rumah sahabat yang ada di sekitar masjid Nabi.  Bahkan sebagian ada yang menginap di dalam masjid.

Ketika datang hari minggu, saat mereka harus pergi ke gereja untuk beribadah, mereka tidak menjumpai gereja berada di dekat tempat mereka.  Mengetahui hal itu Nabi Muhammad mempersilahkan mereka untuk mempergunakan sebagian ruangan masjid.  Merekapun melaksanakan ibadah ditempat yang ditunjuk Nabi itu.

Sikap Nabi dan sahabatnya yang senantiasa menghormati adanya orang yang berbeda agama dengannya diakui oleh Patriach Gereja Nestorion, Isho Yab, yang menduduki jabatannya dari tahun 650 H. sampai 660 H. .  Dia mengatakan sebagaimana dikutip oleh Muhammad al-Ghazaliy :

إن العرب الذين مكنهم الرب من السيطرة على العالم يعاملوننا كما تعرفون إنهم ليسوا بأعداء للتصرانيية يمتدحون ملتنا ويوقرون قديسنا ومسيسيما ويمدون يد المعونة إلى كنائسنا و أديرتنا

“Sesungguhnya orang-orang Arab yang telah dianugerahi Tuhan kekuasaan atas dunia, mempergauli kita, sebagaimana kalian ketahui, bukan sebagai musuh agama Nasrani.  Bahkan mereka memuji agama kita, menghormati orang-orang suci dan pendeta-pendeta kita, serta memberikan bantuan kepada gereja-gereja dan biara-biara kita”

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: